#2 dari dua arah
ada kata yang tak pernah selesai ditulis,
buku-buku jurnal yang sejak lama tak tersentuh,
target-target yang kebanyakan terbengkalai,
tak pernah benar-benar tercapai.
mimpi-mimpi besar memenuhi langit-langit kamar,
kertas-kertas kosong dipenuhi segudang rencana yang tak pernah benar-benar menjadi nyata,
beberapa akhirnya hanya menjadi sobekan kertas,
beberapa ada bekas sisa diremas,
berserakan di lantai,
masi menyisakan harapan-harapan yang kian mengerucut,
perlahan-lahan mulai bermetamorfosa menjadi kata takut.
duduk termenung di depan meja paling penting di ruangan,
entah apa yang mesti dilakukan,
diri hanya terus terdiam.
sejenak memandangi foto masa kecil,
tersenyum lepas dengan gaya dua jari,
bertanya pada diri,
hingga akhirnya menyadari,
tentang hidup yang tak abadi,
tentang waktu yang kian cepat pergi,
jawabannya satu yang pasti,
aku tak akan pernah dapat kembali dan mengulanginya lagi,
hanya bisa terus memandangi.
pandangan beralih ke sudut terdepan dari meja,
buku-buku yang dibiarkan terbuka,
tak pernah tuntas dibaca,
juga tugas-tugas yang kebanyakan sering ditunda.
foto universitas impian terpampang jelas,
melihat daftar impian yang tertempel rapi,
membacanya lamat-lamat,
juga menatap lama-lama kata demi kata penyemangat yang ikut menghiasi dinding meja belajar,
aku tersenyum tipis,
dan dengan penuh harap,
kulangitkan doa pada Sang Pemilik,
semoga satu per satu mampu menjadi kenyataan.
mengalah pada keadaan,
akhirnya diri ini beranjak dari kursi kesayangan,
menghempaskan tubuh dan menghela napas dalam-dalam,
memandangi langit-langit kamar,
ditemani dengan salah satu lagu Pamungkas yang sedari tadi terus diulang,
lalu memutar kembali kenangan-kenangan di kepala,
cerita-cerita yang telah lama usai,
dan tersadar ternyata sudah cukup jauh tertinggal di belakang.
masih sulit untuk menerima,
tapi tetap ku tak bisa menyangkal,
bahwa diri ini kian beranjak dewasa,
semakin menua.
mengerti,
dan dengan sadar yang utuh,
aku harus menyelesaikan semuanya seorang diri,
merapikan apa-apa yang berserakan,
berusaha berdiri di atas kaki sendiri,
dan mulai banyak menyepi dalam sunyi.
padahal,
atas dirinya sendiri ia tak mampu mengerti,
tak dapat memahami,
lantas,
dipaksa untuk terus berjuang tanpa henti,
waktu bahkan tak pernah mau berkompromi,
memaksa kita untuk terus maju atau berdiam diri,
bahkan dunia terus bergerak tak pernah basa-basi,
memaksa kita untuk mengikuti arus atau berupaya mengejar mimpi pribadi.
maka,
bergerak maju adalah satu-satunya pilihan.
mengejar mimpi tetap menjadi keinginan.
memahami ada musuh dari dua arah,
dari luar diri,
dan dari isi kepala sendiri.
memahami satu-satunya yang mampu memahami hanyalah diri sendiri,
terus meyakinkan dan menguatkan bahwa diri ini mampu ada di titik sana,
mematahkan kembali segala hal yang membuat patah,
menutup mata atas apa-apa yang menyakiti pandangan,
menutup telinga atas apa-apa yang tak patut untuk didengar,
menutup mulut atas apa-apa yang tak pantas untuk dibicarakan,
dan dengan tegas menolak apa-apa yang tak perlu.
belajar menerima dan tetap mencintai diri sendiri dalam keadaan apapun,
berupaya bangkit ketika terjatuh,
menyembuhkan luka-luka yang kian hari kian bertambah banyak,
berupaya mencari jawaban sendiri atas pertanyaan-pertanyaan di dalam kepala,
mencari lampu bahkan terkadang memperbaiki lampunya sendiri agar terus dapat mencari jalan keluar,
berupaya memahami alur isi kepala dengan segala inginnya,
mengalahkan kala ego hadir menyapa,
melawan kala takut menghampiri,
menebas segala keraguan yang kerap kali mengganggu,
apapun supaya segala ingin tak hanya menjadi sebuah angan.
tetapi,
aku tetaplah aku,
seorang manusia,
meski selalu berupaya keras atas sebuah ingin,
demi sebuah mimpi.
aku tetaplah seorang manusia.
yang kerap kali dihantui rasa takut,
memudarkan kata berani yang tiap kali muncul,
yang kerap kali lebih sering tak percaya diri,
menutupi potensi-potensi besar dalam diri,
tak jarang dihampiri oleh rasa pesimis,
yang berusaha menjadi dominan daripada si optimis.
ada banyak yang gagal di luar sana,
dan berakhir dengan jalan lain yang sebenarnya tak pernah beriringan dengan kata ingin.
ada banyak yang memilih berjuang,
namun pada akhirnya berhenti di tengah jalan,
dunia tak seramah yang ia kira katanya.
ada banyak yang memilih mengikuti arus,
karena berpikir tak punya kesempatan atas mimpinya,
karena didesak oleh pahitnya realita.
ada banyak yang berjuang dalam diam,
bergerak sayup-sayup dalam sembunyi,
karena dunia sekelilingnya tak pernah punya nyali untuk mengeksekusi bahkan bermimpi,
dan kebanyakan lebih banyak mencaci,
dan ia takut untuk kemudian dibenci.
ada banyak yang berubah,
memilih jalan yang berbeda saat di persimpangan,
katanya sudah terlalu lelah tanpa adanya kemajuan,
tergesa-gesa tak sabaran atas penantian.
dan masih banyak kisah-kisah lain yang tak aku tau.
aku tau banyak ketidakpastian di depan sana,
tapi semoga berjuang tetap menjadi satu-satunya pilihan.
aku tau banyak kecewa yang masih menunggu,
tapi semoga rasa semangat tak pernah surut.
aku tau realitanya pahit dan tak ada yang mudah,
tapi pasti akan sebanding dengan apa yang didapat nanti.
aku beranjak duduk di kasur,
sambil memandangi kembali foto masa kecil di sebrang sana,
semoga diriku masih sama seperti aku di foto itu,
yang tak pernah mengenal ketakutan untuk bermimpi,
yang dengan bangga mengenalkan mimpi-mimpinya kepada dunia.
tentang segala kerumitan isi kepala,
tentang apapun yang terjadi di luar sana,
tentang segala kemungkinan-kemungkinan buruk yang kerap kali memenuhi setiap sudut ruangan,
tentang setiap perasaan-perasaan tak karuan yang datang di setiap dinding-dinding kamar,
terkadang,
tak apa-apa untuk menjadi manusia yang tak baik-baik saja,
tak apa-apa untuk ragu, takut, pesimis,
kita tetaplah seorang manusia yang seringkali tak punya kontrol atas perasaan-perasaan kita sendiri,
yang seringkali tak bisa mengerti atas isi pikiran sendiri,
yang tak punya tombol untuk mengatur apakah kita harus terus optimis, berani, juga bahagia.
ya mungkin kita cuma butuh jeda,
kita cuma harus rehat.
hari ga selalu cerah,
kadang-kadang mendung juga.
hari gak sepenuhnya siang,
karena sebagiannya lagi masih ada malam.
hidup gak selalu baik-baik saja,
hidup gak selalu beraturan sesuai rencana yang kita punya,
isi kepala gak pernah benar-benar sederhana,
dan isi hati yang seringkali sulit dipahami,
membuat kita terus bertanya-tanya,
memunculkan praduga-praduga.
wajar,
kita hanya manusia yang tak pernah bisa sempurna.
ya walau standar hidup manusia masih ada dimana-mana,
dan tanpa sadar kita lebih sering hidup di atas standar-standar itu.
kadangkala,
kita memang perlu kecewa, terjatuh, terluka, sedih, menangis
untuk menjadi lebih bahagia, lebih kuat, dan lebih tangguh.
kadang,
kita memang perlu takut, ragu, pesimis
untuk akhirnya menjadi lebih berani, lebih bernyali, lebih yakin, dan lebih optimis.
ya akhirnya cuma dua,
menerima dan memilih.
menerima bahwa kita hanya manusia yang punya takut, ragu, pesimis,
tak pernah bisa dilawan,
ia selalu ada di dalam diri.
menerima segala hal buruk yang dipunya,
ya sebagai manusia yang jauh dari kata sempurna.
namun,
perlu untuk memilih,
apakah kita akan terus membiarkan perasaan-perasaan itu menguasai diri,
membuat kita semakin kecil dan takut atas bayang-bayang perasaan sendiri yang terkadang lebih banyak ilusi.
membiarkan bayangan itu semakin kuat dan membuat kita berhenti melangkah atas ingin-ingin yang dipunya.
atau,
memilih untuk terus bergerak maju beriringan dengan perasaan-perasaan itu.
memilih terus berjuang dan tak peduli atas bayang-bayang ketidakpastian.
pilihannya ada di diri kita masing-masing.
kita seorang pejuang,
kita harus berjuang.
- dari postingan yang lewat di timeline.
semangat! (:



Komentar
Posting Komentar