#3 asumsi melahirkan ekspektasi

dari pinterest



"It was love at first sight", they said.


Kagum pada pandangan pertama.

Pasti pernah merasakan, kan?


Aku pribadi sering (eh, wkwk).


Kenapa kita bisa kagum pada pandangan pertama padahal belum pernah mengenal si doi sebelumnya?


Karena apa?


Karena parasnya? Yang kalo senyum manis banget? (haha)

Atau karena prestasi dan pencapaian yang kita lihat di akun instagramnya?

Jangan-jangan karena suaranya pas ngaji merdu banget?

Kayaknya aktif berorganisasi, terjaga banget, dewasa,

dan isi dari instagramnya bermutu semua, ya?

Hm, atau mungkin karena berwibawa banget dan jago public speaking?

Dan pasti sih ada karena yang lain-lainnya juga, kan, ya?


Kita semua pasti pernah merasakan hal itu, mungkin karena alasan yang berbeda-beda, tapi dengan satu kesamaan.


Apa?


Kita hanya kagum dengan satu sisinya saja, yaitu sisi yang ia tampakkan. Kita hanya atau mungkin baru mengagumi dengan sosok luarnya saja.


Sebenernya, emang gak salah sih temen-temen. Lagipula, kita akan tahu apakah kita benar-benar mengagumi orang itu atau gak setelah kita mengenal kepribadiannya secara langsung (bukan karena "katanya").


Biasanya, kalo ada sesuatu yang gak pas dan gak sefrekuensi atau gak 'sreg' sama kepribadiannya, lama-lama perasaan itu akan memudar terus menghilang seiring waktu.


Tapi, aku pribadi mulai memahami kalo selama ini perasaan-perasaan kagum itu terlalu banyak tumbuh karena aku membiarkan diri aku menilai dan mengagumi hanya dengan sosok yang ada di layar atau depan panggung.


Yup!

Tanpa sadar, aku hanya kagum dengan sisi yang orang itu tampilkan, bukan karena fakta aku benar-benar mengenalnya.


Dan ketika aku tahu seperti apa sosok yang sebenarnya, ketika aku mengenalinya secara langsung, kebanyakan adalah apa yang aku nilai dan asumsikan tidak sesuai dengan faktanya (ia yang sebenarnya).


Terus akhirnya?

Beberapa kecewa sih wkwk.


Terus seperti yang aku bilang, perasaan itu kian lama kian memudar, bukan karena enggan menerima sisi yang lain, tapi karena aku terlalu nyaman kagum dengan asumsi yang ada di kepala aku tentang seseorang itu, sampai tanpa sadar aku berekspektasi akan nilai dari orang tersebut.


"Terlalu nyaman dengan ekspektasi yang ada di kepala kita, sampai-sampai lupa bahwa ia selalu punya sisi yang lain."


Dan sadar gak sih temen-temen, kalo misalnya kita terlalu sering menilai orang lain hanya pada apa yang mereka tampilkan di layar? Padahal emang gak kenal-kenal banget atau bahkan gak kenal sama sekali.


Menilai orang hingga berasumsi tentang sosok itu, sampai akhirnya kita ada pada titik berekspektasi tentangnya, bahkan mungkin sampai memberi label orang tersebut.


kayak gini nih, gaes


Simon Sinek dalam bukunya "Start With Why" bilang gini,


"We make assumptions about the world around us based on sometimes incomplete or false information."


Yup!

Kita terlalu sering berasumsi mengenai hal-hal di sekitar kita berdasarkan informasi yang setengah-setengah (tidak sempurna atau tidak utuh) atau bahkan informasi yang sama sekali tidak valid.


Ketika kita menilai seseorang, baik itu kebaikannya, keburukannya, atau pencapaiannya, bahkan cerita-cerita lain tentang seseorang tersebut. Coba tanyakan ini pada diri kita,


"Do we really know or do we just assume?"


"Apakah kita benar-benar mengenal orang-orang di lingkungan kita atau selama ini kita masih menerka-nerka dan mengenal mereka karena asumsi kita?"


Sesekali tanyakan, supaya kita tidak berlebihan dalam menilai, baik itu pujian atau bahkan kritikan.


Karena ya setiap dari kita gak hidup hanya dari satu sisi saja, kita selalu punya sisi yang tak pernah kita tampilkan pada siapapun, di samping sisi yang selalu kita tampilkan pada orang lain.


Sebagai manusia, kita tidaklah mesti hidup atas ekspektasi-ekspektasi yang orang lain punya terhadap kita, kita hanya mesti fokus pada apa yang perlu kita capai, fokus pada tujuan kita.


Setiap dari kita juga gak punya kontrol atas hidup orang lain, apalagi berharap supaya ekspektasi yang kita punya dengan kenyataannya tentang mereka akan selalu sama.


Dulu aku sering nanya,

"Eh, kok, pemimpin gini amat, sih?"

"Eh, kok, guru sikapnya gitu?"

"Eh, kok, ulama ini gini, ya?"

"Eh, kok, dia sikapnya gitu, padahal dia ..."

Dan masih banyak "Eh, kok", "Eh, kok" lainnya untuk orang yang berbeda.


Sampai akhirnya aku pikir kenapa gak coba memahami dari sudut yang lain ketimbang harus bertanya ini itu dan berasumsi.


Memahami bagaimana sulitnya hidup dengan ekspektasi-ekspektasi orang lain atas kita. Memahami kalo kita punya posisi yang sama sebagai manusia yang sering berbuat salah. Memahami bahwa kita selalu punya sisi lain dari diri kita.


Dengan memahami sudut yang lain, kita tidak akan mudah berasumsi hanya dari sudut yang kita tahu. Kita tidak akan mudah berekspektasi atas hidup dan perilaku orang lain, karena kita tahu manusia yang baik sekalipun pernah berbuat salah, dan manusia yang buruk sekalipun pasti pernah berbuat kebaikan dan masih punya meski setitik cahaya dalam hatinya untuk kebaikan.


Memahami membuat kita tidak kecewa karena kita tidak mudah menyimpan ekspektasi pada orang lain, juga pada diri kita sendiri.


Kita mungkin sering kecewa karena idola kita, kenapa harus melakukan ini atau melakukan itu. Kecewa karena teman kita, kenapa dia bersikap begini atau kenapa dia berbohong. Kecewa karena orang tua kita, kenapa marah-marah atau gak bisa memahami posisi kita. Bahkan mungkin atau lebih sering kecewa pada diri kita sendiri, karena terlalu banyak bersikap yang tidak semestinya dengan apa yang kita inginkan.


Sampai aku bilang sama diri aku sendiri,

"Ya mereka manusia sih, pasti pernah berbuat salah. Ah, untuk apa juga aku berharap tapi aku gak dapet apa-apa selain rasa sakit, kecewa, atau putus asa. Bahkan diri sendiri aja sering banget ngecewain, apalagi orang lain."


Rasanya tenang ketika aku gak berharap apapun sama siapapun lagi (kecuali Allah). Terus, ketika aku menilai seseorang lagi, entah kagum atau karena kurang suka hanya lewat satu sisi, aku bilang sama diri sendiri,

"Ah, aku belum bener-bener mengenal dia, aku masih belum tau sisi dia yang lain kayak gimana, aku pun gak tau apa alasannya dia berbuat ini."


And you know what?

Gak ada lagi asumsi dan ekspektasi-ekspektasi tentang orang-orang yang memenuhi ruang-ruang di kepala.


Iya, bersih-bersih isi kepala, supaya gak ada lagi kagum atau benci hanya karena sebuah asumsi, supaya gak ada lagi kata kecewa karena sebuah ekspektasi.


So, yuk bersih-bersih isi kepala! :D


D

Komentar

Postingan Populer