RUMUS 3M - JBC Challenge Edition
JABAR BERMASKER - JABAR BERBAGI MOTIVASI KREATIF
RUMUS 3M
Nama lengkap : Dika Putri PattihatunnizaNomor Induk Siswa (NIS) : 181113649Asal Sekolah : SMK Negeri 1 Cimahi
Think like
proton.
Ya. Memiliki arti berpikir positif layaknya sebuah proton. Kalimat positif yang masih saya ingat saat membuka aplikasi pinterest. Adalah salah satu hal yang saya biasakan setelah hampir 7 bulan keadaan mengharuskan kita untuk melakukan hampir segala kegiatan di rumah.
Rutinitas
harian yang tak begitu dinamis juga krisis ekonomi yang membuat isi dompet
semakin tipis yang akhirnya mau tak mau menjadikan bosan, jenuh dan stres
sebagai teman kita setiap hari. Pembelajaran jarak jauh ini cukup membuat penat
ditambah kondisi internet yang kadangkala tak bersahabat. Tetapi, tak
henti-hentinya saya berusaha untuk selalu berpikir positif, mengambil setiap
hikmah dari segala peristiwa yang terjadi.
Semua
tergantung ke mana mata kita memandang. Apakah kita akan terus terjebak dengan
kondisi seperti ini, tak bergerak kemana-mana, tak ada perubahan apa-apa. Atau
kita memilih opsi yang lain, terus bergerak dan terus belajar tak peduli apapun
hambatannya. Ya, semua tergantung diri kita masing-masing ke arah mana mata
kita memandang.
Keadaan
ini justru membuat saya berpikir bahwa ternyata belajar bukan hanya sebatas
kegiatan transfer ilmu dari pengajar ke pelajar, tapi juga bagaimana kualitas
komunikasi antara kedua belah pihak. Saya juga menyadari bahwa belajar bukan
hanya untuk angka semata serta terpenuhinya tugas-tugas yang ada melainkan juga
tentang perkembangan dan peningkatan kemampuan serta kualitas dalam diri.
Saat
menulis blog ini, saya sempat teringat pepatah guru saya sewaktu di sekolah
menengah pertama, bahwa pada hakikatnya belajar itu sendiri bukan hanya perihal
nilai dan mendapat sebuah pekerjaan, tapi lebih dari itu untuk merubah pola
pikir diri kita juga.
Ya,
merubah pola pikir. Merubah mindset. Adalah
poin pertama yang sebaiknya kita lakukan. Merubah mindset bahwa belajar ini bukanlah sebuah beban melainkan sebagai
kewajiban. Bukan hanya sebagai siswa, lebih dari itu sebagai seorang muslim.
Bahwa apa yang terjadi saat ini bukanlah suatu hambatan melainkan sebuah
tantangan. Tantangan agar diri mampu memiliki pengendalian meski dikepung oleh
penekanan dan kebosanan.
Terlepas
dari peran guru dan orang tua, perubahan mindset
diawali dengan adanya keinginan untuk berubah dalam diri dan diikuti dengan
perubahan-perubahan kecil setiap harinya.
Dalam
prosesnya, pemahaman dan pola pikir yang baik akan menjadikan kita pribadi yang
berpikir positif. Menjadikan kita fokus pada solusi, bukan masalah. Fokus pada
apa yang menjadi akar permasalahan bukan hanya mengeluh dan menyalahkan
keadaan. Khususnya pada saat pandemi ini, kita dapat fokus mencari tahu apa penyebab
kita mudah bosan dan stres saat belajar. Jika kita mampu menelaah apa
penyebabnya, maka kita juga akan lebih mudah mencari solusi atas masalah
tersebut. Misalnya, waktu jam belajar yang terlalu lama, kurangnya hiburan dan
sosialisasi, seringnya menunda tugas dan sebagainya. Maka solusinya adalah
dengan menerapkan gaya belajar yang tepat agar kita merasa nyaman dan menikmati
proses belajar itu sendiri, mengurangi hal-hal yang mengganggu fokus kita saat
belajar, disiplin dan tidak berleha-leha, belajar yang diselingi rehat,
berkomunikasi dengan teman, mencari hiburan dan sebagainya. Perlu digarisbawahi
juga bahwa setiap orang memiliki akar masalah serta penyelesaian yang berbeda.
Kemampuan
menelaah akar masalah serta mencari solusi tentunya berkaitan dengan poin kedua
yakni mengenali diri sendiri.
Mengenali
diri sendiri membuat kita akhirnya dapat memahami hal apa yang seringkali
membuat kita mudah bosan dan stres, memahami hal atau kegiatan apa yang dapat
membuat diri dan pikiran kembali fresh dan
memahami gaya belajar yang seperti apa yang sebaiknya kita terapkan.
Pengenalan
diri sendiri dalam proses pembelajaran akan mengantarkan kita pada titik
pemahaman selanjutnya, yakni pemahaman atas kemampuan, keinginan, serta
kualitas kita dalam belajar itu sendiri. Saya menyebutnya dengan pemahaman 3K.
Kita jadi mengetahui sudah sejauh mana kemampuan kita selama ini (terlebih di
saat pandemi jadi lebih jelas terlihat), seberapa besar keinginan kita untuk
belajar serta bagaimana kualitas diri kita. Pemahaman atas 3K inilah yang
akhirnya membuat kita terus mengevaluasi serta memperbaiki diri dalam proses
pembelajaran.
Selain
itu, pengenalan diri juga membuat kita memahami apa kemampuan serta minat dalam
diri. Adanya waktu luang di saat pandemi kita gunakan sebagai peluang serta
kesempatan untuk mengasah kemampuan dalam diri, terlebih di saat seperti ini
aktivitas-aktivitas dapat dilakukan menjadi lebih fleksibel. Memperbanyak wawasan
kita, melakukan hal-hal yang bisa kita lakukan sekarang yang tidak bisa dilakukan
saat kondisi normal serta mulai membuat langkah-langkah kecil untuk mimpi-mimpi
yang besar. Bukan hanya sekedar mengisi kekosongan dengan scroll-ing timeline semata,
tetapi juga ada perubahan serta pergerakan dalam diri yang ditunjukkan dengan
aksi yang nyata.
Tetapi
permasalahan lain adalah apakah kita dapat terus bergairah dan mempunyai
konsistensi serta motivasi yang kuat setiap harinya? Tentu tidak. Akan ada
waktu dimana kita pasti begitu malas untuk melakukan suatu hal.
Di
samping banyak sekali kegiatan yang harus kita lakukan, menjaga mood dan gairah serta mengendalikan
stres menjadi salah satu hal yang begitu penting khususnya dalam proses
pembelajaran, terlebih rasa bosan yang kerap kali menghampiri di situasi
pandemi ini.
Ya,
poin ketiga adalah mengendalikan mood,
stres dan gairah dalam diri atau singkatnya adalah mengendalikan MSG. Terkadang
hal tersebut dapat menjadi pemicu rasa malas untuk melakukan suatu hal. Dan
faktanya hal itu juga dapat menghambat progres kita, jika kita tidak dapat
mengontrolnya dengan baik. Karena pada dasarnya, yang perlu mendapat
perhatian bukan hanya bagaimana supaya kita terus semangat belajar dalam bidang
akademik serta peningkatan kemampuan diri saja, tetapi juga bagaimana kita
dapat menyeimbangkan setiap kegiatan sesuai porsinya.
Menjadi
produktif terus-menerus dan belajar sepanjang waktu demi tujuan yang dituju,
alih-alih yang didapat hanyalah peningkatan rasa stres yang akhirnya
mempengaruhi mental dan kesehatan fisik. Karena lamanya kita belajar tidak
menentukan tingkat keefektifan proses belajar itu sendiri. Kegiatan yang kita
lakukan mestilah seimbang. Tahu kapan saatnya belajar dan kapan saatnya untuk
rehat sebentar.
Pengendalian
MSG tentu didapat jika kita telah melakukan poin yang kedua, yakni mengenali
diri sendiri. Masing-masing dari kita memiliki pengendalian diri yang
berbeda-beda, maka tentukanlah caramu sendiri untuk mengendalikan mood, stres dan gairahmu.
Jadi,
jelas sudahkah apa itu rumus 3M? Merubah mindset,
mengenali diri sendiri serta mengendalikan MSG (mood, stres, gairah). Tiga kunci utama dari pandangan saya supaya
tetap semangat belajar dan terus bergerak meningkatkan kemampuan dalam diri.
Saya
tutup dengan sedikit pantun ya teman-teman.
Makan odading di
jalan mahar
Tetap semangat belajar dan keep cenghar!
#JabarBermaskerChallenge #JabarBermaskerChallenge_Blog/Artikel/Puisi #KeepCenghar #JabarSemangatBDR #JabarBahagiaBDR #sahabatikomdik



Komentar
Posting Komentar