Lebih Dari Sekadar Cerdas




"Hal-hal kecil yang dilakukan  secara bersamaan akan menjadikan hal tersebut begitu besar"


            Sadar gak sih guys kalo hal kecil yang kita lakukan dapat berdampak begitu besar jika dilakukan secara bersamaan? Hal ini berlaku juga setiap kali kita makan. Bukan karena seberapa sering kita makan di setiap harinya, tetapi apakah setiap kali kita makan kita menghabiskannya? Atau jangan-jangan kita masih sering menyisakan makanan setiap kali kita selesai makan? Mungkin sebagian dari kita beralasan karena terlalu kenyang serta alasan-alasan lainnya.

            Kita pasti merasa jijik melihat sisa sampah makanan apalagi jika mencium bau yang tidak sedap. Namun, dengan merasa jijik melihat sampah makanan ternyata belum mampu membuat sebagian dari kita sadar bahwa sampah-sampah tersebut memiliki dampak yang begitu besar, bahkan tak jarang kita menemukan bahwa diri kita adalah pelaku yang membuang sampah makanan tersebut.

 

Kenapa?

            Kenapa kita harus peduli dan ikut bergerak? Ternyata selama ini banyak alasannya mengapa kita harus peduli serta bergerak, beberapa diantaranya yaitu :

·         Pemanasan Global

Nah, sesuai alur diatas, ternyata menurut IPCC (2007) sampah makanan yang dikonversi menjadi metana karena tertimbun di TPA berpotensi 21 kali lebih besar dari gas CO2.

·         Angka Kelaparan di Indonesia Cukup Tinggi

Peneliti Senior di International Food Policy Research Institute (IFPR), Rosegrant menyatakan bahwa sekitar 22 juta orang di Indonesia mengalami kelaparan kronis.

            Selain itu, ada banyak masalah lainnya seperti masalah ketersediaan pangan yang semakin rentan dari waktu ke waktu, pertumbuhan penduduk Indonesia yang meningkat terus-menerus, adanya urbanisasi, serta masih banyaknya anak-anak Indonesia yang kekurangan gizi.

 

Apa?

            Menurut Rikolto dalam e-book yang berjudul What Will We Eat Tomorrow, kota cerdas pangan adalah kota yang secara aktif mengatasi tantangan untuk memastikan pangan tersedia, aman dan sehat bagi warganya, sambil menjaga kelestarian lingkungan dan menjamin kehidupan yang layak bagi seluruh pihak di rantai pasokan mulai dari produsen pangan hingga pedagang.

            Singkatnya, kota cerdas pangan itu adalah kota yang mampu menyediakan pangan dengan cukup, adil, dan sehat serta mampu menangani serta mengelola sampah pangan yang dihasilkannya dengan baik agar tercapainya titik keseimbangan. Sampah pangan itu sendiri terbagi menjadi dua yakni food loss dan food waste

            Ngomong-ngomong soal food waste, seperti apa sih fakta seputar food waste di Indonesia?

 

Fakta

·         Indonesia menghasilkan sampah makanan hingga 13 juta ton per tahun, loh!

Hal ini disampaikan oleh Kepala Perwakilan Badan Pangan PBB (FAO). Sampah-sampah tersebut ternyata paling banyak dihasilkan dari retail, katering, dan restoran akibat penyediaan makanan yang berlebihan.

·         Jumlah sampah makanan setara dengan memberi makan 28 juta orang

Jika sampah makanan mampu dikelola dengan baik dan benar maka 13 juta ton sampah tersebut setara dengan memberi makan 28 juta orang, dimana di Indonesia sendiri angka tersebut melebihi angka kemiskinan yaitu sekitar 22 juta orang.

·         Indonesia menjadi penghasil sampah makanan terbanyak kedua di dunia

Mengutip dari Foodsustainability.eiu.com, Indonesia menduduki posisi nomor dua dalam menghasilkan sampah makanan terbanyak di dunia setelah Saudi Arabia. Hal ini terjadi akibat pola konsumsi masyarakat yang buruk sehingga setiap tahun sampah makanan semakin meningkat.

·         Kota Jakarta menyumbang sampah terbanyak di Indonesia

Dikutip dari Brilio.net, jumlah sampah secara keseluruhan di ibukota mencapai 7.500 ton per hari. Lebih dari setengahnya merupakan sampah organik seperti sisa makanan. Dari data tersebut juga diprediksi sampah di Jakarta akan meningkat hingga 9.000 ton per hari pada 2025.

·         Sampah makanan yang terbuang setara dengan 27 triliun rupiah

Data dari BPS pada 2017 menunjukkan bahwa sampah makanan yang terbuang setara dengan 27 triliun rupiah. Indonesia masih mengimpor sampah organik dari luar negeri untuk penggunaan beternak. Padahal jika sampah di dalam negeri bisa dikelola dengan baik yaitu dengan memaksimalkan sampah dari restoran atau produsen, kita bisa menghemat sekitar 27 triliun rupiah, lho.

 

Masalah

            Sedih gak sih guys melihat fakta bahwa Indonesia menyumbang sangat banyak sampah makanan? Nah, ternyata ada begitu banyak masalah yang masih belum ditangani dengan baik sampai saat ini, beberapa diantaranya seperti di bawah ini guys

·         Pemerintah

            Ada beberapa masalah yakni mulai dari kebijakan pemerintah dalam menangani sampah di Indonesia, infrastruktur yang disediakan masih buruk secara kuantitas dan kualitas, serta tidak adanya edukasi mendalam untuk masyarakat.

            Menurut Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kementerian LHK) Djati Witjaksono Hadi, pola penanganan sampah di Indonesia hanya melalui tiga tahapan sederhana yaitu mengumpulkan, mengangkut, kemudian membuang. Pola tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi kebijakan umum yang dilaksanakan pemerintah.

            Untuk infrastruktur itu sendiri, banyak wilayah di Indonesia yang masih minim daya tampung tempat pembuangan sampah (TPS) padahal jumlah penduduk terus meningkat dari waktu ke waktu.

·         Non Pemerintah

            Banyak pihak yang terlibat yaitu diantaranya seperti masyarakat itu sendiri, dimana perilaku masyarakat dalam menghadapi sampah pangan masih buruk serta tingkat kesadaran dan rasa tanggung jawab akan sampah pangan masih rendah. Sedangkan di tingkat institusi/organisasi, perusahaan, serta pemilik usaha pangan masih banyak yang belum memiliki kebijakan mengenai sampah pangan yang dihasilkan.

 

Solusi

            Ada tiga solusi dari pandangan saya sebagai penulis yakni inovasi, partisipasi, serta kolaborasi. Lebih lengkapnya di bawah ini ya guys.

·        Inovasi

            Yakni inovasi pemerintah akan kebijakan mengenai peredaran pangan, inovasi kebijakan pemerintah pusat serta daerah untuk mengelola sampah pangan, adanya program edukasi mengenai lingkungan secara masif baik langsung maupun melalui penyediaan informasi berbasis teknologi, dan pembangunan infrastruktur dan TPS yang lebih berkualitas.

            Pemerintah juga diharapkan lebih gencar dalam mengimplementasikan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Selain itu, pemantauan dan evaluasi harus terus dilakukan dalam setiap proses pengelolaan sampah pangan.

·        Partisipasi

            Pentingnya partisipasi masyarakat untuk mengurangi sampah pangan. Partisipasinya tidak hanya berupa mengikuti kebijakan pemerintah, melainkan secara kreatif dan inovatif ikut membuat kebijakan dalam lingkungan ia tinggal, yaitu lingkup rumah tangga serta masyarakat sekitar.

            Masyarakat dapat membuat program berbagi sisa makanan layak makan, mendaur ulang sampah makanan menjadi kompos atau bahkan produk yang bisa dipakai kembali, serta mengimplementasikan prinsip 3R.

            Masyarakat juga mampu berpartisipasi sesuai dengan lingkup bidangnya masing-masing. Salah satu contohnya adalah Influencer. Seorang influencer dapat berpartisipasi dengan membagikan informasi dan gaya hidup yang baik untuk mengurangi sampah makanan.

            Selain itu, pemilik usaha seperti perhotelan, restoran, dan jasa katering pun harus ikut serta berpartisipasi mengurangi sampah makanan. Misalnya, pemilik jasa katering membuat kebijakan dengan membagikan sisa makanan kepada orang yang membutuhkan tiap kali terdapat sisa makanan.

·         Kolaborasi

            Kolaborasi juga penting dilakukan, yakni kolaborasi antara pemerintah dengan organisasi atau institusi, pemilik perusahaan, serta pemilik usaha seperti perhotelan, restoran, dan jasa katering. Kolaborasi dapat dilakukan dengan membuat  sebuah gerakan, campaign, bahkan komunitas umum untuk mengurangi sampah makanan.

          Salah satu contoh gerakan wujud kolaborasi antara pemerintah dan institusi ialah Bandung Food Smart City.

            Bandung Food Smart City itu sendiri merupakan gerakan yang diinisiasi oleh pemerintah daerah Kota Bandung, Fisip Unpar dan Rikolto Veco. Bandung Food Smart City dibentuk untuk mewujudkan Kota Bandung sebagai kota cerdas pangan, guna mengurangi terjadinya food waste melalui berbagai program dan kegiatan yang dilakukan.

            Ada beberapa program kegiatan yang telah dilakukan oleh Bandung Food Smart City yaitu pertama kampanye melalui games bernama Food Racing yang bertujuan untuk memberikan penyadaran terhadap kaum muda (kaum milenial) bahwa belanja makanan itu harus bijak dan memberikan penyadaran juga bahwa makanan yang tersisa di piring atau minuman yang tersisa di gelas minuman tersebut berdampak buruk terhadap lingkungan sekitar dan bahkan berdampak buruk bagi bumi.

            Program yang kedua yaitu Food Sharing, bekerja sama dengan Pemerintah Kota Bandung dan Forum Badami, Bandung Food Smart City membuat platform digital yaitu Badami Food Rescue, yang merupakan gerakan upaya penyelamatan surplus makanan, waste makanan dan donasi fresh makanan yang dihasilkan oleh rumah tangga, restoran, hotel, cafe, bakery, catering dan industri makanan lainnya. Untuk disalurkan kepada orang lain yang membutuhkan dan mengurangi jumlah sampah makanan dari skala yang paling kecil/individu dengan bantuan aplikasi dan kampanye secara massif. Aplikasi food sharing ini masih dalam masa pembuatan dan uji coba sampai nanti akan siap di launching dalam waktu dekat.

            Terakhir, yaitu Urban Farming dimana salah satu tujuan kegiatannya adalah menyokong ketahanan pangan keluarga serta menyokong ekosistem pangan lokal dan ekonomi masyarakat.

 

            Gitu deh guys. Memang ada banyak masalah serta tantangan yang begitu kompleks yang juga membutuhkan solusi yang kompleks agar tercapainya kota cerdas pangan.

            Ada banyak masalah lain yang sama-sama membutuhkan perhatian kita, tapi salah satu upaya terbesar adalah kita bertanggung jawab mengurangi sampah makanan yang kita hasilkan, at least kita menyadari bahwa masih banyak orang kelaparan yang membutuhkan tangan kita serta menyadari bahwa dengan memberi dan mengurangi sampah makanan, kita meminimalisir terjadinya kelaparan serta masalah yang lebih besar di masa depan. Yup, karena langkah terbaik untuk menyelamatkan bumi kita ya sesederhana mengubah kebiasaan kita masing-masing.

            Kemajuan Kota Bandung, Surabaya, Jakarta, dan kota-kota lainnya itu sendiri tidak lahir hanya karena inovasi dari pemangku kebijakan, tetapi karena masyarakatnya yang mau untuk mengisi ruang-ruang kontribusi dengan partisipasi, aktif mendukung serta mengkritisi, bukan hanya diam menonton tak mau mengurusi. Karena ...

 

 “Ada yang lebih dari sekadar cerdas untuk membangun kota cerdas pangan, yakni masyarakatnya yang aktif untuk peduli serta melakukan aksi.”

 

***

 

Sumber referensi :

-          Kajian Timbulan Sampah Makanan Warung Makan

-          22 Juta Penduduk Masih Kelaparan, Indonesia Butuh Investasi Pangan

-          Bandung Food Smart City

-          What Will We Eat Tomorrow

-          Fakta Sampah Makanan Setara Dengan 27 Triliun Rupiah

-          Sampah dan Plastik Jadi Ancaman, seperti Apa Kebijakan Pemerintah?

-          Butuh kolaborasi atasi sampah makanan

-          Bandung Kota Cerdas Pangan


Komentar

Postingan Populer